Apa Saja

Ketika Masalah Keluarga Menjadi Konsumsi Publik

Saya lupa sudah berapa lama saya merasa ‘gerah’ sendiri kalau membuka facebook dan twitter, dan membaca status teman-teman saya yang isinya -menurut pendapat saya- terlalu mengumbar kehidupan keluarga mereka.

Mmm, misalnya.. Tentang saudaranya yang menyebalkan, tentang ayahnya yang ga bisa ngertiin, tentang ibunya yang rese, dan lain-lain. Ga ada yang salah sih sama status-status itu, toh hak mereka juga. Tapi ko ya saya yang jadi ga enak sendiri ya? Merasa ‘terlalu jauh’ masuk ke kehidupan mereka. Dan terkadang, malah jadi punya pikiran sendiri tentang isi statusnya. Misal : “ih ternyata oom-nya si itu begitu ya..” “ya ampun, ibunya jahat banget” (hehe, ini sih sinetron ya? :D). Padahal saya ga ada hubungan sama status mereka. Pikiran kaya gitu muncul aja tiba-tiba, kaya kalau kita baca berita di koran. Disini, saya udah merasa gerah lagi, karena jadi berpikiran buruk sama orang yang tidak saya kenal. -_-

Dulu, orang malu kalau masalah pribadinya (apalagi keluarganya) diketahui orang lain. Tapi sekarang, setiap menit pun orang bisa menceritakannya kepada ratusan bahkan ribuan orang. Hmm.. Kalau dulu kan masalah keluarga atau rumah tangga ya cuma buat konsumsi di rumah aja. A big no no for other people to know what happens inside our home. Tapi sekarang? Berantem sama orang tua aja bisa ketauan, bahkan ampe ke kata-katanya pun diumbar ke publik. Hehe..

Kenapa ya fenomena ‘curhat’ ke publik via internet ini bisa berkembang? Siapa yang mulai ya? Apa karena luapan emosi yang sangat tinggi hingga seseorang mau menceritakan masalah pribadinya ke orang yang sangat banyak (dan bahkan tidak dikenalnya)? Atau saking desperate nya makanya cerita sama banyak orang?

Ada sisi positifnya sih, status-status curcol ini bisa mengasah sisi psikolog dari setiap orang yang membacanya, mencoba untuk memecahkan masalah. Tapi juga mengasah sisi wartawan infotainment dari seseorang juga. Mencoba menerka-nerka masalah yang ada. Hehe..

Yah bagaimanapun kembali ke pribadi masing-masing. Apakah mereka nyaman untuk mengumbar kehidupan pribadi dan keluarganya ke muka umum atau tidak. (tapi harusnya mikirin ‘perasaan’ keluarganya juga ya..)

Kalau saya sendiri, sampai saat saya menulis ini, masih tidak merasa sreg untuk menulis status berisi kehidupan domestik dan keluarga di situs jejaring sosial. Kalau menulis tentang keluarga, paling tentang ponakan-ponakan tersayang. Lagipula, saya harus berpikir keras untuk mengumbar masalah keluarga saya ke publik. (berpikir : masalah apa ya..)

Salam cinta keluarga! :)

4 thoughts on “Ketika Masalah Keluarga Menjadi Konsumsi Publik

  1. dan terkadang curcol itu menyinggung perasaan org lain ti…seperti yg terjadi di Bali kemarin pas perayaan Nyepi…

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s