Budaya · Indonesia · Yang Sering Terjadi

Ngga Ada Film Asing, Ngga Ada UberTwitter, Terus Kenapa?

Sekitar satu-dua minggu lalu, ada dua hal yang menghebohkan dunia maya. Setidaknya menurut saya. Pertama, tentang kabar larangan impor film asing. Kedua, tentang diblokirnya UberTwitter.

Heboh. Isi lini waktu (timeline) Twitter penuh sama orang-orang yang berkicau sana-sini. Menolak larangan impor film. Berbicara banyak tentang pentingnya film asing. Tentang “kalau film asing dilarang, saya nonton film apa dong?”. Tentang menyalahkan Indonesia. Tentang “kalau film asing dilarang, saya mau tinggal di negara lain aja!”. Dan keluhan lainnya. Hanya beberapa orang yang saya follow di Twitter yang nampaknya adem ayem saja dengan isu ini.

Belum lagi.. ‘kasus’ lainnya : UberTwitter diblokir. Waduh, kalau yang ini saya ngga habis pikir deh. Jujur, saya kaget dan ketawa pas baca kehebohan orang-orang akibat pemblokiran ini. Heboh banget. Kalau kali ini isi lini waktu Twitter mayoritas kaya gini : “yah saya ngga suka Twitter for BB.. mau UberTwitter lagi!“. Atau pertukaran informasi tentang aplikasi apa yang paling mirip sama si UberTwitter. Atau bahkan.. (ini yang lucu) tentang ‘kekhawatiran’ akan tidak nyamannya berkicau di Twitter kalau ngga ada UberTwitter!

Menurut saya, semuanya lucu.

___________

Tentang (kabar) Larangan Film Asing

Saya sangat setuju sama mayoritas orang yang bilang kalau film Indonesia sekarang memang kebanyakan tidak layak ditonton. Kebanyakan diisi film mistis atau slapstick. Mungkin ini juga yang menjadikan masyarakat jadi seakan ‘mendewakan’ film asing terutama Hollywood. Saya pribadi juga memang lebih sering menonton film asing dibandingkan film Indonesia.

Tapi, apa perlu segitu hebohnya menanggapi kabar larangan impor film ini? Setahu saya, sebenarnya pemerintah kan bukan mau melarang impor film. Tapi, pemerintah sedang mengkaji besarnya pajak film impor. Akan ada kenaikan pajak dan penyesuaian dengan pajak film dalam negeri. Jangan sampai pajak film asing malah lebih kecil dibandingkan pajak film dalam negeri. Kabar kenaikan pajak inilah yang membuat para importir film kelabakan. Jadilah mereka ‘mengancam’ akan berhenti memasok film impor. Hebohlah masyarakat kita.

Sehari sebelum kabar ini muncul, saya baru menonton film bagus (dan ternyata sekarang menang Oscar! :) ), yaitu The King’s Speech. Pas baca kabar tentang larangan film impor, jujur, yang saya pikirkan adalah: “wah, gapapa lah, film asing terakhir yang saya tonton di bioskop filmnya bagus..” :D Baru kemudian saya mikir gimana nasib Harry Potter dan film lain yang saya pengen tonton di bioskop nanti. Hehehe..

Lalu saya baca status Fb teman saya, Jawot  (Fitra Ananta Sujawoto), yang intinya tentang keheranan dia terhadap masyarakat Indonesia yang heboh menanggapi hilangnya film asing di bioskop. Saya jadi kepikiran kakak dan sepupu saya yang tempat kerjanya di pedalaman sana. Kakak saya tahan ko ngga nonton bioskop selama kurang lebih 4 tahun. Ada rasa kehilangan tapi ngga sampai heboh. Saya ingat keadaan desa tempat kakak saya praktik, ingat bagaimana kehidupan pemuda disana, saya jadi berpikir kalau yang heboh dan merasa kehilangan akan film asing itu.. ya cuma orang-orang kota yang punya bioskop di kotanya. Bagi mereka di pedalaman, ngga pernah merasakan bioskop, ya ngga kehilangan. Dan.. Lebih banyak mana, mereka yang punya akses ke bioskop atau mereka yang tinggal di tempat tidak berbioskop? Jawabannya nomor dua.

Tentang Pemblokiran UberTwitter

Maaf ya teman-teman saya yang ber Blackberry ria.. Bukan maksud menyidir kalian. Tapi.. Hei, sebegitu pentingkah UberTwitter bagi kalian? Saya memang bukan (atau belum) menggunakan Blackberry. Saya ngga tau apa hebat atau enaknya Twitter-an via UberTwitter. Tapi saya ngga habis pikir, ko bisa sih kalian heboh waktu UberTwitter diblokir.. :O

Teman, UberTwitter kan cuma salah satu dari ribuan aplikasi untuk mengakses Twitter. Kenapa harus ‘panik’ begitu UberTwitter diblokir.. Kenapa harus kalang kabut nyari aplikasi yang paling pas buat mengganti si UberTwitter.. Keheranan tentang UberTwitter ini mencapai puncaknya ketika saya lihat di Twitter banyak orang bersyukur atas kehadiran UberSocial. Ya ampuuun.. Apa yang terjadi kalau nanti UberSocial diblokir jugaaa? Mau marah-marah di Twitter lagi? -__-‘

___________

Dua kehebohan dunia maya ini bisa jadi contoh betapa saat ini manusia ‘kalah’ oleh benda-benda yang mereka ciptakan sendiri. Hiks. Padahal di luar sana, masih banyaaaaak orang yang belum punya akses ke bioskop. Masih banyaaaaak orang yang belum punya akses ke internet apalagi Blackberry. Masih banyak persoalan lain selain ngga bisa nonton film asing dan menggunakan UberTwitter..

Fyuh. Akhirnya saya bisa juga nulis curhatan ini. Terinspirasi setelah akhirnya hari ini bisa ngobrol banyak lagi sama Mas Wirya lewat telepon. Dan si Mas komentarnya lebih sarkastik lagi dibanding saya. Hehe.. Menurut Mas, orang-orang yang heboh menanggapi kabar-kabar diatas itu kaya ngga sadar kalau kita ini hidup di negara berkembang yang mayoritas orangnya justru ngga bisa menikmati kemewahan bioskop dan gadget canggih.

Tulisan ini bukan untuk sindiran, tetapi jadi renungan buat saya sendiri juga. Yang masih seriiiiiing melupakan orang-orang yang ngga seberuntung saya. :(

 

p.s. : makasih Mas Wirya buat ngobrol panjang lebarnya.. ngga ada romantis-romantisan, telepon lintas benua malah kita pake buat ngobrolin hal kaya gini. :)

2 thoughts on “Ngga Ada Film Asing, Ngga Ada UberTwitter, Terus Kenapa?

  1. ngga ngaruh ubbertwitter di blokir wong BB aja aku ngga punya….he…he…dipikir2 berapa kali sebulan ya aku nonton bioskop? setahun aja mungkin sekali…bakalan nangis bombay anakku yg dua ditinggal bapak emaknya pacaran di bioskop? biasanya kan nonton film di TV atau DVD? yeah, mungkin sdh Ibu-ibu banget…jadi kalo harga beras naik atau susu naik, bensin naik baru aku treak-treak kali..he..he..

    1. hehe.. sama mba.. aku jg ngga pake (atau belum?) pake bb. nonton bioskop jg sekarang paling sebulan sekali. heran aja sama orang-orang yang jadi ‘panik’ sama hal kaya gini. padahal ga perlu dipanikin kan.. hehe..

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s