Bandung-Jakarta · Bandung-Nottingham · Keluarga

2015-nya Antartika

2015 itu naik turun banget banget.

Awal hingga pertengahan tahun 2015, saya kehilangan banyak orang yang saya kenal. 3 dosen saya saat di HI Unpad meninggal berurutan dalam kurun waktu dua bulan. 1 Uwa (kakak Bapak) saya meninggal karena sakit. 1 adik kelas di kampus meninggal ketika dinas di Bandung. He was my thesis-thesis defense-graduation mate. Ada beberapa alumni SSEAYP yang berpulang juga, salah satunya Bang Andrie Djarot.

Di antara semua kehilangan itu, ada satu kehilangan yang sampai sekarang masih saya dan keluarga besar rasakan sejak April 2015. Meninggalnya kakak sepupu saya di salah satu tempat terindah di Indonesia: Labuan Bajo, Pulau Komodo. Terlalu sedih sampai saya tidak pernah kuat untuk melanjutkan tulisan tentang kehilangan ini dan akhirnya memutuskan untuk ngga ditulis aja. Keluarga besar kami sangat dekat, dan Teh Asri adalah cucu Eyang yang menjadi panutan kami adik-adiknya. Teh Asri yang jarak usianya 2 tahun dari saya ini adalah ‘cucu kesayangan’ Eyang saking baik, pintar, cantik, solehahnya. Semua yang kenal beliau mulai dari keluarga, suami, teman, adik kelas, rekan kerja, punya kenangan yang sama tentang Teh Asri: beliau orang baik. Sampai-sampai kami ngga inget apa kejelekan yang pernah beliau lakukan. Seriously.

Kepergian Teh Asri ngasih banyak pelajaran buat kami. Saya disadarkan terutama tentang persiapan sebelum dipanggil Tuhan. Panggilan yang bisa kapan saja, di mana saja. Bahkan ketika sedang menikmati liburan dan di tempat yang sangat indah sekalipun. Dan satu yang pasti, Teh Asri pergi meninggalkan sejuta kebaikan yang diingat orang. Muncul lah kembali pertanyaan-pertanyaan tentang apa saja yang sudah kita lakukan di dunia ini. Pertanyaan “what do you want to be remembered when you die?” jadi terasa sangat nyata.

Selain kesedihan, alhamdulillah 2015 juga banyak sekali hal baik yang terjadi. Beberapa hari sebelum kepergian Teh Asri saya lamaran dan menikah 12 September 2015. #AkhirnyaNikahJuga! :) Bulan April-September kami isi dengan persiapan. Ini bertepatan dengan dinas Wirya 3 minggu ke negeri koala dan saya yang nyiapin Konferensi Penulis Cilik Indonesia. Seru! Walau capenya kebangetan. Sabtu nikah, Selasa saya masih pp rapat ke Jakarta. Hasilnya ngga perlu diet tapi badan kami menyusut dengan sendirinya untuk kembali melar setelah 3 bulan menikah hahaha. Padahal pas nikah kebaya saya sampai dikecilin 2 cm kanan kiri loh saking tiba-tiba mengecilnya :’D

Pipi Pipi
Artwork kado nikah dari teman, suka banget!

Ada banyak hal lain juga yang benar-benar kami syukuri. Mungkin ini terdengar klise, tapi betul ya, ternyata setelah menikah banyak kemudahan yang kami dapat. Hingga akhirnya di penghujung 2015 ini, (beneran penghujung karena per 31 Desember), saya resmi keluar dari kantor saya sekarang untuk hijrah ke ibukota. Sengaja pilih tanggal ini supaya 2016 benar-benar mulai kehidupan baru dan karena kantor lagi sepi banget pada cuti, jadi kan ngga perlu mellow pamitan sama banyak orang. :D

Awal 2016 akan saya sambut dengan banyak sekali perubahan status dan kondisi. Mulai dari pertama kali pindah kota, pertama kali tinggal pisah dari orang tua, pertama kali tinggal berdua dengan suami, keluar dari pekerjaan kantor, pertama kali tinggal di hunian vertikal, dan banyak hal lainnya.

Bismillah untuk hijrah dan hidup yang lebih bahagia, berkah, tenang. :)

Halo 2016!

Catatan ini dituntaskan di perjalanan Bandung-Jakarta

31 Desember 2015 (15:57 WIB)

2 thoughts on “2015-nya Antartika

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s